Inews Kuala Pembuang – Sebuah insiden tragis menimpa seorang sopir truk sampah yang dilaporkan meninggal dunia saat bertugas. Peristiwa tersebut memicu sorotan publik, terutama dari pihak keluarga dan sejumlah rekan kerja yang meminta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) agar bertanggung jawab dan memberikan penjelasan terkait penyebab kejadian.
Menurut informasi awal, sopir tersebut meninggal ketika sedang menjalankan tugas pengangkutan sampah di wilayah operasional DLH. Kondisi kerja yang dinilai berat serta dugaan kurangnya pengawasan keselamatan menjadi bahan pertanyaan bagi mereka yang ditinggalkan.
Tuntutan Keluarga: Evaluasi dan Transparansi
Keluarga almarhum meminta DLH untuk membuka hasil pemeriksaan medis serta proses internal yang sedang berlangsung. Mereka menginginkan kejelasan apakah peralatan kerja, kesehatan pekerja, dan standar keselamatan telah diterapkan secara memadai.
“Kami hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apakah prosedurnya dipenuhi? Apa ada kelalaian? Kami berharap DLH menjelaskan secara terbuka,” ungkap salah satu anggota keluarga.
Pekerja Lapangan Soroti Beban Kerja
Beberapa rekan sesama sopir mengeluhkan kondisi kerja yang dinilai cukup berat. Mereka menyebut bahwa waktu kerja yang panjang, intensitas pengangkutan yang tinggi, serta kondisi armada yang tidak selalu optimal menjadi faktor risiko di lapangan.
Sejumlah pekerja berharap kejadian ini menjadi momentum pembenahan, termasuk pemeriksaan berkala kendaraan, pengecekan kesehatan rutin, serta evaluasi terhadap standar keselamatan kerja di sektor kebersihan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/truk-sampah-cipayung1.jpg)
Baca juga: Presiden Prabowo cek langsung pemasangan jembatan bailey di Teupin Mane
DLH Janji Lakukan Pemeriksaan Internal
Pihak DLH, melalui juru bicaranya, menyampaikan duka cita mendalam atas kejadian tersebut. Mereka juga memastikan bahwa investigasi internal sedang dilakukan untuk mengetahui apakah ada kelalaian prosedural atau faktor lain yang menyebabkan meninggalnya sopir tersebut.
“Kami berkomitmen untuk mengusut peristiwa ini secara menyeluruh. Semua prosedur akan ditinjau ulang, dan jika ditemukan kekurangan, kami akan memperbaikinya,” ujar perwakilan DLH.
DLH juga menyatakan akan memberikan pendampingan kepada keluarga korban, termasuk urusan administratif dan bantuan kedinasan.
Pengamat Ketenagakerjaan: K3 Harus Jadi Prioritas
Pengamat ketenagakerjaan menilai insiden ini sebagai pengingat pentingnya penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di sektor layanan publik, terutama pada profesi berisiko tinggi seperti petugas kebersihan dan pengangkut sampah.
Menurut mereka, pemerintah daerah wajib memastikan bahwa pekerja mendapat perlindungan penuh melalui:
-
pemeriksaan kesehatan berkala,
-
pelatihan keselamatan,
-
pemeliharaan armada secara rutin,
-
dan pengawasan terhadap beban kerja.
Harapan: Tidak Ada Lagi Korban
Keluarga, rekan kerja, hingga masyarakat berharap kejadian ini tidak terulang. Mereka meminta DLH tidak hanya melakukan investigasi, tetapi juga melakukan perbaikan nyata di lapangan.
Insiden ini sekaligus membuka diskusi baru tentang perlindungan pekerja kebersihan yang sering terabaikan, padahal mereka berperan vital dalam menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan kota.















